1. Pengakuan si Gila Belanja – Confessions of a Shopaholic (klik sini)

2. Si Gila Belanja Merambah Manhattan – Shopaholic Abroad (klik sini)

3. Si Gila Belanja Punya Kakak – Shopaholic dan Sister (klik sini)

4. Si Gila Belanja Akhirnya Kawin Juga – Shopaholic Ties The Knot (klik sini)

5. Si Gila Belanja Punya Bayi – Shopaholic and Baby (klik sini)

***

2 Pengakuan si Gila Belanja – Confessions of a Shopaholic (movie tie-in, limited edition)

Rebecca Bloomwood adalah seorang jurnalis. Pekerjaannya menulis artikel tentang cara mengatur keuangan. Ia menghabiskan waktu luangnya dengan… berbelanja.

Terapi belanja adalah jawaban untuk semua masalahnya. Namun belakangan Becky dikejar-kejar surat-surat tagihan. Ia tahu ia harus berhenti, namun ia tidak bisa melakukannya. Ia mencoba mengurangi pengeluaran, mencoba memperbesar penghasilan, tapi tak ada yang berhasil. Satu-satunya penghiburan adalah membeli sesuatu… sesuatu untuk dirinya sendiri.

Akhirnya sebuah kisah mengusik hatinya dan menggugah rasa tanggung jawabnya, dan artikelnya di halaman depan menggulirkan rangkaian kejadian yang akan mengubah hidupnya-selamanya.

21Si Gila Belanja Merambah Manhattan – Shopaholic Abroad

Bagi Rebecca Bloomwood, hidup ini sunggup mudah. Ia muncul setiap pagi di TV, manajer banknya sangat baik hati, dan soal belanja, motonya adalah Hanya Beli Apa Yang Kauperlu – dan ia sungguh-sungguh mematuhinya!(Kira-kira begitulah). Dan hidupnya lebih sempurna ketika kekasihnya, Luke Brandon yang terkenal, menawarinya kesempatan untuk bekerja di New York.

Astaga, New York! Di sana kan ada banyak tempat belanja hebat seperti Saks atau Bloomingdale’s. Atau Barney’s. Dan obral-obral sampel misterius tempat kau bisa mendapatkan gaun Prada seharga seratus dolar, ya? Ha, rasanya dolar bukan uang sungguhan, rasanya seperti main monopoli.

1Si Gila Belanja Akhirnya Kawin Juga – Shopaholic Ties The Knot

Hidup Becky Bloomwood sungguh mulus: dia punya pekerjaan yang menyenangkan, dia tinggal di apartemen Manhattan bersama pacarnya, Luke, dan mereka membuka rekening gabungan (walaupun belum sepakat apakah rok Miu Miu termasuk pos pengeluaran rumah tangga).

Kemudian Luke melamarnya! Dan hidup Becky jadi rumit lagi. Ibunya ingin mereka menikah di Inggris, mengenakan gaun pengantinnya dulu. Ibu Luke ingin mereka menikah di Plaza Hotel New York, dengan pesta mewah, kue pengantin hebat, dan kada-kado luar biasa.

Becky harus mengambil keputusan—tapi sulit sekali! Waktu terus berjalan, padahal ada dua rencana yang sedang digodok di dua negara. Becky pun menyadari dia punya masalah besar.

4Si Gila Belanja Punya Kakak – Shopaholic dan Sister

Becky Brandon (d.h. Bloomwood) tidak menyangka perkawinannya tak seindah impian. Masalah bermula ketika Becky mengatakan pada Luke dia hanya belanja sedikit saat bulan madu. Padahal ada dua truk besarnya yang datang ke apartemen mengirim barang belanjaannya.
Sekarang anggaran belanjanya dibatasi, dia belum punya pekerjaan, dan yang paling parah, Suze sahabatnya punya teman baru. Becky sangat sedih – sampai dia menerima kabar bahwa dia sebenarnya punya kakak perempuan!

Asyik! Akhirnya Becky punya kakak sungguhan. Mereka bisa belanja, memilih sepatu, ke salon bersama…

Tapi… ya ampun. Masak sih, kakak Becky itu benci belanja?

5Si Gila Belanja Punya Bayi – Shopaholic and Baby

Becky Brandon (dahulu Bloomwood) kembali lagi dalam petualangan shopaholic-nya yang paling menegangkan!

Betapa indah hidup Becky! Bersama Luke, ia sedang sibuk mencari rumah baru (harus ada Kamar Sepatu-nya…), dan yang lebih penting, ia sedang menantikan kelahiran bayinya! Tak ada lagi yang membuatnya lebih gembira, apalagi setelah ia menyadari belanja ternyata bisa membantu mengatasi mual-mual di pagi hari. Duh, betapa panjang daftar belanjanya! Semua harus yang terbaik untuk si bayi: kamar bayi rancangan desainer, kereta bayi paling keren dan canggih, hingga dokter kandungan paling top langganan selebriti.

Masalahnya, dokter selebriti itu ternyata adalah Venetia Carter, mantan pacar Luke yang glamor dan intelek. Tapi tentunya hal itu tidak jadi masalah buat Becky, kan? Atau…?

Oleh: Elvyn G Masassya, pengamat investasi dan keuangan
Kompas, Minggu, 02 Juni 2002, 11:21 WIB

PERKEMBANGAN zaman bagi sebagian orang memang menyenangkan. Berbagai perubahan terjadi di segala sektor. Perkembangan informasi teknologi, perkembangan sektor keuangan, dan sebagainya membuat hidup seolah-olah lebih nyaman, lebih instan, dan tidak merepotkan.

Bayangkan, dulu ke mana-mana mesti membawa uang tunai. Sekarang, uang tunai nyaris tidak perlu. Dompet pun tidak perlu lagi tebal-tebal. Cukup berisikan KTP, SIM, dan beberapa kartu. Mulai dari kartu ATM, kartu kredit sampai kartu debit, dan mungkin kartu bisnis. Itulah salah satu dampak dari perubahan.

Akan tetapi, perubahan-perubahan yang memberi kemudahan itu tidak pula gratis. Kemudahan dalam melakukan transaksi keuangan, misalnya. Saat ini, untuk melakukan transaksi Anda tidak perlu membayar tunai. Pembayaran cukup dilakukan dengan uang plastik. Hanya saja, bila uang plastik yang Anda gunakan adalah kartu kredit, maka Anda mesti membayar bunga kredit-nya. Sementara, bila Anda menggunakan kartu debit memang tidak ada biaya bunga, tetapi setiap bulan Anda akan dikenakan biaya administrasi pengelolaan kartu debit Anda.

Tentu saja itu wajar sebab memang demikian kelazimannya. Belakangan ini, muncul pula suatu fenomena baru. Anda bisa berbelanja di suatu tempat dengan menggunakan kartu kredit, namun bunganya nol persen. Tentu saja siapa pun yang ditawari seperti itu pasti tergiur. Beli barang, bayarnya nyicil, namun bunga nol persen. Persis seperti hadiah Sinterklas.

Apa benar ada bank penerbit kartu kredit yang mau melakukan hal seperti itu? Apa bank-bank penerbit kartu kredit sudah jadi yayasan sosial? No way, semua penerbit kartu adalah pebisnis yang ingin mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Hanya caranya saja yang berbeda. Dan cara tersebut terkadang membuat orang terkecoh. Termasuk, fenomena belanja mudah secara kredit tanpa perlu membayar bunga. Bila Anda tidak percaya, mari kita buktikan.

***
PARA issuer (penerbit kartu kredit) pada dasarnya mendapatkan keuntungan dari beberapa sebab. Pertama, annual fee. Siapa pun yang sudah menjadi pemegang kartu harus membayar iuran tahunan, terlepas apakah kartunya dipakai atau tidak.

Kedua, bunga kredit. Jika Anda membayar tagihan kartu kredit secara mencicil, maka terhadap sisa utang akan dikenakan bunga tetap. Bisa dua sampai tiga persen per bulan.

Ketiga, biaya transaksi dari para merchant. Apa itu merchant? Merchant adalah tempat Anda melakukan transaksi. Bisa hotel, toko, rumah sakit, bengkel, dan lain sebagainya. Merchant ini adalah klien dari penerbit kartu. Untuk setiap transaksi yang menggunakan kartu kredit, merchant akan memberikan fee berkisar satu-tiga persen dari nilai transaksi kepada para issuer.

Apa untungnya buat merchant? Volume transaksi. Dengan memperkenankan konsumen membayar melalui kartu kredit maka volume transaksi akan semakin besar. Dengan semakin besar volume transaksi, margin yang diperoleh pun bisa semakin tinggi. Jadi, antara merchant dan issuer kartu kredit terjadi hubungan saling menguntungkan. Itu pula sebabnya, penerbit kartu kredit berlomba-lomba memiliki jaringan merchant dalam jumlah besar sebab bagi penerbit kartu kredit semakin banyak merchant yang dimiliki, semakin menarik pula kartu kredit yang diterbitkannya.

Dengan latar belakang seperti itu, maka untuk mendongkrak pendapatan para penerbit kartu kredit akan mengupayakan jumlah pemegang kartu yang banyak dan juga jumlah merchant yang banyak. Selain itu, penerbit kartu juga mem-”provokasi” agar pemegang kartu meningkatkan transaksinya dengan menggunakan kartu kredit. Kenapa? Karena semakin banyak transaksi yang dilakukan, maka semakin besar pula potensi fee yang diperoleh.

***
LANTAS bagaimana hubungannya kondisi seperti itu dengan fenomena yang berkembang akhir-akhir ini di mana ada penerbit kartu yang mengiming-imingi para pemegang kartu untuk berbelanja di suatu tempat tidak dikenakan bunga, namun pembayarannya dicicil sekian kali atau menggunakan cicilan tetap? Apakah benar, konsumen (pemegang kartu) tidak dikenakan bunga? Jawabannya adalah tidak.

Contohnya begini. Umpamakan Anda membeli sebuah televisi seharga Rp 12 juta. Bila membeli dengan kartu kredit, biasanya ada merchant yang mengenakan biaya tiga persen terhadap transaksi itu, tetapi dengan mengikuti program belanja mudah tanpa bunga Anda tidak dikenakan biaya apa pun. Jadi, harga yang Anda bayarkan tetap Rp 12 juta, namun pembayarannya dicicil misalnya sepuluh kali.

Apakah cicilan Anda setiap kalinya sebesar Rp 1,2 juta? Tidak. Anda mesti membayar lebih dari Rp 1,2 juta setiap bulannya. Bisa jadi cicilan tetap Anda adalah sebesar Rp 1,2 juta ditambah 3 persen dari Rp 12 juta, yakni Rp 360 ribu. Dengan demikian, Anda mesti membayar secara tetap sebesar Rp 1,56 juta. Dus, jumlah yang Anda bayarkan secara total sebenarnya jauh lebih besar dari Rp 12 juta.

Selain itu, dengan menetapkan cicilan dalam jumlah tertentu, penerbit kartu mendapatkan kepastian pendapatan bunga dari sisa utang yang mesti Anda bayar. Artinya, bila cicilannya 12 kali, berarti penerbit kartu sudah bisa mereka-reka berapa perolehan bunga yang didapatnya selama satu tahun.

Ringkasnya, bagi penerbit kartu kredit pemberlakuan program belanja mudah itu memberikan beberapa keuntungan. Pertama, mendapatkan bunga secara tetap dan pasti sepanjang cicilan belum dilunasi pemegang kartu. Kedua, akan semakin banyak transaksi yang dilakukan pemegang kartu dan itu berarti semakin besar pula perolehan fee dari merchant yang menjadi klien issuer.

***
APA daya tarik pola pembayaran seperti itu? Konsumen seolah-olah diuntungkan karena dapat membeli barang yang harganya mahal, namun boleh mencicil secara tetap tanpa biaya apa pun. Padahal, biayanya sudah dimasukkan ke dalam komponen cicilan itu sendiri. Lagi pula, pola mengangsur secara tetap sebenarnya bisa saja dilakukan pemegang kartu tanpa perlu mengikuti program belanja mudah, sebagaimana digembar-gemborkan issuer.

Dengan kata lain, pembayaran tagihan kartu kredit diatur sendiri oleh pemegang kartu sesuai kemampuan. Toh, muaranya sama saja. Bahkan, jika dalam kurun waktu tertentu pemegang kartu ingin melunasi, juga bisa. Sementara, jika pemegang kartu mengikuti program belanja mudah, cicilannya sudah ditentukan dan tidak bisa dibayar sekaligus kendati pemegang kartu punya uang dan ingin segera melunasi.

Dengan latar belakang sebagaimana dipaparkan di atas, sebenarnya jelas tidak ada makan siang gratis dalam urusan belanja dengan kartu kredit. Semua kemudahan yang diberikan ada biayanya. Jika tidak hati-hati, Anda sebagai pemegang kartu akan terjerat dalam kubangan utang sepanjang masa. Selain itu, pola belanja mudah itu mendorong konsumen semakin konsumtif.

Jadi, ada baiknya Anda meneliti kembali konsep pengelolaan keuangan secara cerdas. Artinya, setiap kemudahan pasti ada biaya/risikonya. Dan Anda, perlu menghitung untung-ruginya secara detail.

Sekali lagi, kartu kredit adalah alat untuk kemudahan transaksi. Menggunakan kartu kredit bukan karena tidak mempunyai uang, melainkan agar lebih mudah dan cerdas dalam bertransaksi. Kongkretnya, kartu kredit bukan sekadar untuk berbelanja secara mudah, tetapi juga berbelanja secara cerdas.

(www.kunci.or.id)

APAKAH ANDA SEORANG ‘SHOPAHOLIC’?

Pikirkan pernyataan-pernyataan berikut ini dengan membubuhkan “Benar” atau “Salah” pada masing-masingnya.

1. Ketika saya merasa tertekan, biasanya saya belanja.

2. Saya menghabiskan banyak uang untuk barang yang tidak saya miliki namun tidak saya butuhkan.

3. Saya merasa gila saat saya berbelanja tapi setelah itu saya tidak terlalau peduli akan barang yang saya beli.

4. Saya memiliki banyak pakaian yang tidak pernah saya pakai dan sejumlah perkakas/alat yang tidak terhitung jumlahnya dan saya tidak pernah menggunakannya.

5. Saya sering merasa sembrono/gila-gilaan dan lepas kontrol ketika saya berbelanja.

6. Saya sering berbohong kepada teman-teman dan keluarga tentang uang yang saya habiskan.

7. Saya merasa sangat kacau dan terganggu dengan kebiasaan berbelanja yang saya lakukan

8. Setelah belanja gila-gilaan, saya kadang merasa hilang orientasi dan tertekan.

9. Sekalipun saya merasa sangat bingung tertang hutang-hutang saya, saya tetap berbelanja.

10. Kegiatan berbelanja saya bnayak disebabkan masalah hubungan dengan diri sendiri atau pun dengan orang lain.

Apakah Anda menjawab “benar” sebanyak empat kali atau lebih dari pernyataan-pernyataan di atas? Jika ya, tampaknya Anda memiliki masalah yang serius dengan nafsu belanja.

Jika kebanyakan jawaban Anda atas pernyataan kuis ini “Benar”, mungkin Anda membutuhkan lebih dari sekedar tips-tips yang sifatnya ekonomis untuk mengendalikan pengeluaran Anda. Jika pola belanja Anda mulai mengganggu kehidupan Anda, pertimbangkan untuk mendatangi seorang psikolog. Dia akan membantu Anda untuk mencari tahu mengapa kebiasaan belanja Anda sangat sulit dikendalikan. Shopaholic biasanya digolongkan sebagai “penyimpangan obsesif-kompulsif” yang dapat disembuhkan dengan bantuan psikolog. Dengan kesabaran, ketekunan serta bantuan dari pihak professional, seorang shopaholic dapat kembali mengendalikan hidupnya.

shopaholic

Kompilasi novel chicklit dari Gemma Townley, Sophie Kinsella, Meg Cabot dan Lauren Weisberger:

gemma1.jpg

sophie2.jpg

lauren2.jpg

Catatan: novel chicklit yang dimuat di posting ini belum diterjemahkan ke Bahasa Indonesia.

Tunggu tanggal mainnya, ya.

***

Kalau ada diva urusan nyanyi dan nari, di chicklit sesungguhnya ada chicklit best-sellers yang selalu habis. Dari Inggris ada dua kakak beradik. Mau diterjemahkan ke bahasa apa saja, pasti nama Sophie Kinsella itu resep manjur. Kakak Sophie, Gemma Townley, juga memiliki gaya kocak yang tak kalah heboh. Dari Amerika Serikat ada Meg Cabot dan seleb New York Lauren Weisberger… ah siapa yang tak nonton film Devil Wears Prada atau Princess Mia?

Keempatnya adalah novelis chicklit yang produktif. Ini dia karya mereka yang baru keluar sebulan terakhir, atau yang akan keluar dalam waktu dekat:

all-maret-2008-chicklit.jpg

Sophie Kinsella: Remember Me? (Maret 2008)

Gemma Townley: The Importance of Being Married (Juni 2008)

Meg Cabot: Princess Mia Diaries #9 (Maret 2008)

Lauren Weisberger: Chasing Hary Winston (Mei 2008)

           

Why Men Marry Bitches ? : Panduan Bagi Perempuan untuk Memenangkan Hati Pria

Pengarang: Sherry Argov
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 310 – Kode buku: G08SARG01
Harga toko: Rp 39.000,- (diskon 15%) Rp 33.150,-

Dengan gaya penulisan yang blak-blakan dan humoris, Sherry akan menjelaskan mengapa bersikap supermanis ternyata tidak membuat laki-laki berpikir mengenai pernikahan. Berdasarkan hasil wawancara dengan laki-laki, buku ini akan membocorkan ‘rahasia besar’ yang selama ini luput dari perhatian:

  • Bagaimana cara laki-laki memanipulasi hubungan supaya tetap terkesan santai dan tanpa ‘masa depan’ jelas?
  • Apa saja trik laki-laki sehingga perempuan seringkali menjadi ‘pihak yang terlalu emosional’ dalam suatu hubungan?
  • Bagaimana meyakinkan pasangan bahwa menikah adalah idenya?
  • Bagaimana membuat laki-laki berlutut dan bertanya, ‘Maukah menikah denganku?’ tanpa diteror rengekan ‘Kapan nikah?’ lebih dulu?

Buku ini adalah jawaban tepat buatmu, para perempuan single, yang sudah menikah, baru saja bercerai, atau yang sudah muak mendengar ibumu terus-terusan mendesak untuk cepat-cepat menikah sebelum ‘keburu perawan tua’.

Kencan Jakarta

Pengarang : Anisa Anindhika
Penerbit: Gagas Media
Halaman: 152 – Kode buku: G08ANIA01

Harga toko: Rp 32.000,- (diskon 15%) Rp 27.200,-:Kalau lo dan pasangan bosan pergi ke tempat makan yang gitu-gitu aja, coba deh kunjungin tempat makan yang ada di buku ini! Karena…selain makanannya enak, harganya murah-murah! Yah, cukup bawa Rp. 50.000 perut kalian berdua dijamin kenyang, puas dan senang!

Eits…tunggu dulu! Karena kesenangan lo nggak berhenti disini. Selain info tempat makan (kurang lebih 100 lokasi), ada juga lho tips-tips alternatif pakaian yang bisa lo berdua pakai di saat kencan, terus…bonus info tempat-tempat belanja dan hang out yang paling gaul di Jakarta! Seru kan?

Jadi….Murah dapet! Romantisnya juga dapet!!

Love Fool

buku Love Fool: Hal-hal Konyol yag Gue Lakuin Demi Cinta. Buku ini terlahir berkat adanya kontes penulisan yang diadakan oleh GagasMedia dengan tema Love Fool Writing Contest beberapa waktu lalu.

Dari kontes penulisan itu, tersaring 10 orang pemenang yang ceritanya dianggap paling oke dan konyol oleh tim redaksi GagasMedia. Ada 10 cerita dalam buku ini. Di antaranya: Menggelandang Semalam, Being a Sephia and Still Happy, Pengorbanan buat Cinta = Goblok, Cinta Ditilang, dan Tiga Hari Mencari Cinta.

So, kalo kamu penasaran dengan cerita-ceritanya, buruan deh baca bukunya. Siapa tau, kamu bisa dapat ide oke untuk ngedeketin gebetan kamu setelah membaca buku ini.

SMS Romantis Ala Gibran

Getaran hatiku padamu seperti kepak sayap burung dalam cakrawala cinta. Bagaikan cawan yang penuh dengan anggur tua. Yang dipersembahkan untuk dahaga jiwa”.

Sepenggal kata mutiara itu merupakan hasil karya Kahlil Gibran. Ya, penyair yang cukup terkenal dengan berbagai puisi cintanya. Cinta, cinta, dan cinta.

Lima huruf ini memang bisa membuat seseorang terbuai. Bukan hanya Gibran, siapapun bisa menjadi seorang penyair saat cinta sedang menyapanya. Termasuk kamu tentunya! Nggak perlu susah ataupun repot mencari kata-kata. Karena saat kamu jatuh cinta, apapun bisa menjadi rangkaian kata yang indah.

Kalaupun kamu nggak sempat merangkai kata-kata untuk si dia, jangan cemas dan jangan pusing! GagasMedia menerbitkan buku Kata Cinta Kepadamu: Kahlil Gibran Bicara Cinta yang disusun oleh Harri Gieb.

Buku ini berisi kumpulan sms cinta nan romantis yang bisa kamu jadikan referensi untuk mengungkapkan kata-kata indah kepada pasanganmu. Mulai dari ungkapan cinta, rindu, sampai permohonan maaf pun ada di sini. So, buruan deh baca bukunya dan kirimkan ungkapan cinta ke si dia!

chicklit-writers1.jpg

Marian Keyes (The Other Side of the Story) sesungguhnya sarjana hukum. Lahir tahun 1963 di Dublin, Irlandia, dan sekarang tinggal di London, Inggris.

Jane Green (Jemima J) adalah eks wartawan, bahkan Jessica Adams (I am a Believer) masih menulis kolom astronomi untuk Vogue Australia. Green sekarang punya empat anak, dan Adams tetap sendiri tapi gonta-ganti pasangan.

Yang pasti ketiganya sama-sama telah menghasilkan buku best sellers yang diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa!

Pengakuan Si Gila Belanja (Confessions of A Shopaholic)
Laura Wolf

www.inibuku.com -

Buku Harian Sang Calon Pengantin (Diary of A Mad Bride)
Laura Wolf

www.inibuku.com -

Buku Harian Bridget Jones (Bridget Jones Diary)
Helen Fielding

www.inibuku.com56.7 kg (seandainya aku bisa tetap di bawah 57 kg dan tidak terus naik-turun seperti mayat tenggelam-tenggelam dalam lemak), unit alkohol 2 (bagus), rokok 17 (buruk, tapi akan mulai berhenti besok), kalori 775 (okoknya besok harus sudah berbobot 54 kg).

Brigdet Jones, wanita lajang berusia tiga puluhan, merasa yakin dirinya akan bahagia jika:
1. berhasil menurunkan berat badan
2. berhenti merokok
3. punya ketenangan batin

Karena belum mempunyai pacar, orang-orang di sekitarnya berusaha menjodohkan Brigdet dengan beberapa pria. Salah satunya dengan Mark Darcy, duda dan pengacara kaya raya yang serius, pendiam, dan berpenampilan agak kuno. Bridget tidak memedulikan Mark karena ia jatuh cinta pada bosnya di perusahaan penerbitan, Daniel Cleaver yang ganteng, modern, dan mata keranjang. Sampai suatu hari Daniel mengkhianatinya…

Bridget Jones’s Diary memotret kehidupan wanita yang mulai panik membayangkan mereka akan hidup sendirian karena belum juga menemukan pria impian. Ini juga kisah tentang pergulatan wanita tahun 1990-an, yang terus berupaya memperbaiki diri agar bisa diterima adi dunai yang kejam, yang segalanya ditentukan oleh penampilan luar.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.