Oleh: Elvyn G Masassya, pengamat investasi dan keuangan
Kompas, Minggu, 02 Juni 2002, 11:21 WIB

PERKEMBANGAN zaman bagi sebagian orang memang menyenangkan. Berbagai perubahan terjadi di segala sektor. Perkembangan informasi teknologi, perkembangan sektor keuangan, dan sebagainya membuat hidup seolah-olah lebih nyaman, lebih instan, dan tidak merepotkan.

Bayangkan, dulu ke mana-mana mesti membawa uang tunai. Sekarang, uang tunai nyaris tidak perlu. Dompet pun tidak perlu lagi tebal-tebal. Cukup berisikan KTP, SIM, dan beberapa kartu. Mulai dari kartu ATM, kartu kredit sampai kartu debit, dan mungkin kartu bisnis. Itulah salah satu dampak dari perubahan.

Akan tetapi, perubahan-perubahan yang memberi kemudahan itu tidak pula gratis. Kemudahan dalam melakukan transaksi keuangan, misalnya. Saat ini, untuk melakukan transaksi Anda tidak perlu membayar tunai. Pembayaran cukup dilakukan dengan uang plastik. Hanya saja, bila uang plastik yang Anda gunakan adalah kartu kredit, maka Anda mesti membayar bunga kredit-nya. Sementara, bila Anda menggunakan kartu debit memang tidak ada biaya bunga, tetapi setiap bulan Anda akan dikenakan biaya administrasi pengelolaan kartu debit Anda.

Tentu saja itu wajar sebab memang demikian kelazimannya. Belakangan ini, muncul pula suatu fenomena baru. Anda bisa berbelanja di suatu tempat dengan menggunakan kartu kredit, namun bunganya nol persen. Tentu saja siapa pun yang ditawari seperti itu pasti tergiur. Beli barang, bayarnya nyicil, namun bunga nol persen. Persis seperti hadiah Sinterklas.

Apa benar ada bank penerbit kartu kredit yang mau melakukan hal seperti itu? Apa bank-bank penerbit kartu kredit sudah jadi yayasan sosial? No way, semua penerbit kartu adalah pebisnis yang ingin mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Hanya caranya saja yang berbeda. Dan cara tersebut terkadang membuat orang terkecoh. Termasuk, fenomena belanja mudah secara kredit tanpa perlu membayar bunga. Bila Anda tidak percaya, mari kita buktikan.

***
PARA issuer (penerbit kartu kredit) pada dasarnya mendapatkan keuntungan dari beberapa sebab. Pertama, annual fee. Siapa pun yang sudah menjadi pemegang kartu harus membayar iuran tahunan, terlepas apakah kartunya dipakai atau tidak.

Kedua, bunga kredit. Jika Anda membayar tagihan kartu kredit secara mencicil, maka terhadap sisa utang akan dikenakan bunga tetap. Bisa dua sampai tiga persen per bulan.

Ketiga, biaya transaksi dari para merchant. Apa itu merchant? Merchant adalah tempat Anda melakukan transaksi. Bisa hotel, toko, rumah sakit, bengkel, dan lain sebagainya. Merchant ini adalah klien dari penerbit kartu. Untuk setiap transaksi yang menggunakan kartu kredit, merchant akan memberikan fee berkisar satu-tiga persen dari nilai transaksi kepada para issuer.

Apa untungnya buat merchant? Volume transaksi. Dengan memperkenankan konsumen membayar melalui kartu kredit maka volume transaksi akan semakin besar. Dengan semakin besar volume transaksi, margin yang diperoleh pun bisa semakin tinggi. Jadi, antara merchant dan issuer kartu kredit terjadi hubungan saling menguntungkan. Itu pula sebabnya, penerbit kartu kredit berlomba-lomba memiliki jaringan merchant dalam jumlah besar sebab bagi penerbit kartu kredit semakin banyak merchant yang dimiliki, semakin menarik pula kartu kredit yang diterbitkannya.

Dengan latar belakang seperti itu, maka untuk mendongkrak pendapatan para penerbit kartu kredit akan mengupayakan jumlah pemegang kartu yang banyak dan juga jumlah merchant yang banyak. Selain itu, penerbit kartu juga mem-”provokasi” agar pemegang kartu meningkatkan transaksinya dengan menggunakan kartu kredit. Kenapa? Karena semakin banyak transaksi yang dilakukan, maka semakin besar pula potensi fee yang diperoleh.

***
LANTAS bagaimana hubungannya kondisi seperti itu dengan fenomena yang berkembang akhir-akhir ini di mana ada penerbit kartu yang mengiming-imingi para pemegang kartu untuk berbelanja di suatu tempat tidak dikenakan bunga, namun pembayarannya dicicil sekian kali atau menggunakan cicilan tetap? Apakah benar, konsumen (pemegang kartu) tidak dikenakan bunga? Jawabannya adalah tidak.

Contohnya begini. Umpamakan Anda membeli sebuah televisi seharga Rp 12 juta. Bila membeli dengan kartu kredit, biasanya ada merchant yang mengenakan biaya tiga persen terhadap transaksi itu, tetapi dengan mengikuti program belanja mudah tanpa bunga Anda tidak dikenakan biaya apa pun. Jadi, harga yang Anda bayarkan tetap Rp 12 juta, namun pembayarannya dicicil misalnya sepuluh kali.

Apakah cicilan Anda setiap kalinya sebesar Rp 1,2 juta? Tidak. Anda mesti membayar lebih dari Rp 1,2 juta setiap bulannya. Bisa jadi cicilan tetap Anda adalah sebesar Rp 1,2 juta ditambah 3 persen dari Rp 12 juta, yakni Rp 360 ribu. Dengan demikian, Anda mesti membayar secara tetap sebesar Rp 1,56 juta. Dus, jumlah yang Anda bayarkan secara total sebenarnya jauh lebih besar dari Rp 12 juta.

Selain itu, dengan menetapkan cicilan dalam jumlah tertentu, penerbit kartu mendapatkan kepastian pendapatan bunga dari sisa utang yang mesti Anda bayar. Artinya, bila cicilannya 12 kali, berarti penerbit kartu sudah bisa mereka-reka berapa perolehan bunga yang didapatnya selama satu tahun.

Ringkasnya, bagi penerbit kartu kredit pemberlakuan program belanja mudah itu memberikan beberapa keuntungan. Pertama, mendapatkan bunga secara tetap dan pasti sepanjang cicilan belum dilunasi pemegang kartu. Kedua, akan semakin banyak transaksi yang dilakukan pemegang kartu dan itu berarti semakin besar pula perolehan fee dari merchant yang menjadi klien issuer.

***
APA daya tarik pola pembayaran seperti itu? Konsumen seolah-olah diuntungkan karena dapat membeli barang yang harganya mahal, namun boleh mencicil secara tetap tanpa biaya apa pun. Padahal, biayanya sudah dimasukkan ke dalam komponen cicilan itu sendiri. Lagi pula, pola mengangsur secara tetap sebenarnya bisa saja dilakukan pemegang kartu tanpa perlu mengikuti program belanja mudah, sebagaimana digembar-gemborkan issuer.

Dengan kata lain, pembayaran tagihan kartu kredit diatur sendiri oleh pemegang kartu sesuai kemampuan. Toh, muaranya sama saja. Bahkan, jika dalam kurun waktu tertentu pemegang kartu ingin melunasi, juga bisa. Sementara, jika pemegang kartu mengikuti program belanja mudah, cicilannya sudah ditentukan dan tidak bisa dibayar sekaligus kendati pemegang kartu punya uang dan ingin segera melunasi.

Dengan latar belakang sebagaimana dipaparkan di atas, sebenarnya jelas tidak ada makan siang gratis dalam urusan belanja dengan kartu kredit. Semua kemudahan yang diberikan ada biayanya. Jika tidak hati-hati, Anda sebagai pemegang kartu akan terjerat dalam kubangan utang sepanjang masa. Selain itu, pola belanja mudah itu mendorong konsumen semakin konsumtif.

Jadi, ada baiknya Anda meneliti kembali konsep pengelolaan keuangan secara cerdas. Artinya, setiap kemudahan pasti ada biaya/risikonya. Dan Anda, perlu menghitung untung-ruginya secara detail.

Sekali lagi, kartu kredit adalah alat untuk kemudahan transaksi. Menggunakan kartu kredit bukan karena tidak mempunyai uang, melainkan agar lebih mudah dan cerdas dalam bertransaksi. Kongkretnya, kartu kredit bukan sekadar untuk berbelanja secara mudah, tetapi juga berbelanja secara cerdas.